RESUME MATERI AKIDAH AKHLAK MTS KELAS VII

AKIDAH ISLAM  

I.                   DASAR DAN TUJUAN AKIDAH ISLAM

a.      Dalil Akidah Islam

Berbicara tentang akidah, yang paling pertama dan utama adalah konsep ketuhanan, baru kemudian konsep-konsep akidah yang lainnya yang sesuai dengan keinginan Allah itu sendiri melalui firman-firmanNya dalam al-Qur'an dan hadis-hadis nabiNya. Ketika seseorang berakidah Islam,maka pondasi awal untuk membangun akidah/keyakinannya adalah keyakinan terhadap Allah sebagai Tuhan yang wajib disembah, Maha Esa, Pencipta dan Pengatur alam semesta, dan Zat Ghaib yang merupakan sumber dari segala hal, termasuk juga kewajiban menjalankan aturan-aturanNya dalam segala aspek kehidupan baik yang berhubungan dengan ibadah ataupun muamalah yang erat hubungannya dengan interaksi dengan sesama makhluk.

Oleh karenanya, misi pertama yang diemban oleh tiap Rasul untuk disampaikan kepada umat manusia adalah konsep ketuhanan ini. Sebagaimana firman Allah Swt. dalam Qs. an-Nahl:36:

 

وَلَقَدْ بَعَثْنَا فِيْ كُلِّ اُمَّةٍ رَّسُوْلًا اَنِ اعْبُدُوا اللّٰهَ وَاجْتَنِبُوا الطَّاغُوْتَۚ فَمِنْهُمْ مَّنْ هَدَى اللّٰهُ وَمِنْهُمْ مَّنْ حَقَّتْ عَلَيْهِ الضَّلٰلَةُ ۗ فَسِيْرُوْا فِى الْاَرْضِ فَانْظُرُوْا كَيْفَ كَانَ عَاقِبَةُ الْمُكَذِّبِيْنَ

Dan sungguh, Kami telah mengutus seorang rasul untuk setiap umat (untuk menyerukan), “Sembahlah Allah, dan jauhilah tagut”, kemudian di antara mereka ada yang diberi petunjuk oleh Allah dan ada pula yang tetap dalam kesesatan. Maka berjalanlah kamu di bumi dan perhatikanlah bagaimana kesudahan orang yang mendustakan (rasul-rasul).

b.      Dasar Akidah Islam

Dasar- dasar hukum Akidah Islam adalah :

1.      Al Qur’an

Al Qur’an adalah firman Allah SWT yang diwahyukan kepada Nabi Muhammad SAW melalui Malaikat Jibril. Al Qur’an merupakan dasar atau sumber hukum akidah Islam yang pertama dan utama.

2.      Hadits

Hadits adalah segala ucapan, perbuatan dan sikap diam (ketetapan) Nabi Muhammad SAW yang dijadikan sumber hukum.

Hadits dijadikan dasar hukum yang kedua setelah Al Qur’an dengan alasan antara lain sebagai berikut :

Ø  Segala yang diucapkan Rasulullah SAW adalah berdasarkan petunjuk wahyu dari Allah SWT. (Q.S. Al Haqqah : 44-46)

Ø  Allah telah memberi petunjuk kepada manusia agar mengikuti kebenaran yang disampaikan Rasulullah SAW. (Q.S. Al Hasyr : 7)

Ø  Banyak hadits yang menjelaskan ayat-ayat Al Qur’an yang masih bersifat global. Misalnya keterangan Rasul mengenai tata cara menyembah Allah (Shalat) yang menjelaskan ayat :

وَاعْبُدُوا اللَّهَ وَلَا تُشْرِكُوا بِهِ شَيْئً

 dan sembahlah Allah dan janganlah kalian menyekutukan-Nya dengan sesuatu pun…” (Q.S. An Nisa : 36)

 

c.       Manfaat  Mempelajari Akidah Islam

1.      Dapat memperoleh petunjuk hidup yang benar sesuai kehendak Allah SWT.

2.      Memupuk dan mengembangkan dasar-dasar ketuhanan yang ada sejak lahir

3.      Memelihara kesyirikan

4.      menghi

5.      Selamat dari pengaruh kepercayaan lain yang akan membawa kerusakan dan hidup yang jauh dari kebenaran

6.      Memperoleh ketentraman dan kebahagiaan hidup yang hakiki karena dekat dengan Allah SWT.

7.      Tidak mudah terpengaruh kemewahan hidup di dunia karena kehidupan yang hakiki adalah kehidupan di akherat

8.      Mendapat jaminan surga dan selamat dari neraka apabila berpegang teguh terhadap akidah Islam secara benar


I.                   MENINGKATKAN KEIMANAN KEPADA ALLAH MELALUI PEMAHAMAN SIFAT-SIFATNYA

 

a.      Sifat-sifat Allah SWT

Sidat-sifat Allah SWT berarti keadaan yang berhubungan dengan Zat Allah SWT sesuai dengan keagungan-Nya. Ualam Kalam (ahli tauhid) membagi sifat-sifat Allah SWT menjadi 3 (tiga), yaitu :

1.      Sifat Wajib

Yaitu sifat-sifat sempurna yang pasti dimiliki oleh Allah SWT sesuai dengan keagungan-Nya. Sifat wajib Allah ada 20

2.      Sifat Mustahil

Yaitu sifat-sifat yang tidak mungkin (mustahil) dimiliki / ada pada Zat Allah SWT. Sifat mustahil merupakan kebalikan dari sifat wajib

3.      Sifat Jaiz

Yaitu sifat yang boleh ada pada Allah SWT atau tidak ada padaNya. Dengan kata lain ialah kewenangan yang dimiliki Allah SWT sepenuhnya untuk berbuat sesuatu atau tidak berbuat sesuatu sesuai dengan kehendak-Nya yang bebas dan mutlakز

(فِعْلُ كُلٌ مُمْكِنٍ اَوْ تَرْكُهُ)

 

b.      Sifat-sifat Wajib dan Mustahil Allah SWT yang Nafsiyah, Salbiyah, Ma’ani dan Maknawiyah

1.      Sifat Nafsiyah

Yaitu sifat diri, dimana Zat Allah SWT tidak dapat dipahami jika sifat itu tidak ada. Sifat wajib Allah yang nafsiyah hanya satu yaitu wujud (ada). Sifat mustahilnya adalah ‘adam  (tidak ada). Dalilnya Q.S. Al A’raf : 54.

2.      Sifat Salbiyah

Salbiyah artinya meniadakan. Sifat salbiyah adalah sifat-sifat yang menunjukkan Allah SWT Maha Suci atau tidak mungkin memiliki sifat-sifat yang berlawanan dengan sifat-sifat ini. Sifat wajib Allah yang salbiyah ada 5, yaitu :

Ø  Qidam (dahulu) : sifat mustahilnya huduts (baru). Dalilnya Q.S. Al Hadid : 3.

Ø  Baqa’ (kekal) : sifat mustahilnya fana’ (rusak/binasa). Dalilnya Q.S. Ar Rahman : 26-27.

Ø  Mukholafatu lil hawaditsi (berbeda dengan makhlukNya); sifat mustahilnya mumatsalatu lil hawaditsi (sama dengan makhluk). Dalilnya Q.S. Asy Syura : 11.

Ø  Qiyamuhu binafsihi (berdiri sendiri atau eksis tanpa bantuan pihak lain); sifat mustahilnya ihtiyajuhu lighairihi (memerlukan bantuan pihak lain). Dalilnya Q.S. Ali Imran : 2.

Ø  Wahdaniyah (esa); sifat mustahilnya ta’addud (berbilang). Dalilnya Q.S. Al Ikhlash : 1-4.

3.      Sifat Ma’ani

Yaitu sifat yang memastikan bahwa Allah SWT memiliki sifat-sifat tersebut karena kebenarannya dapat dibuktikan dengan panca indera dan akal sehat. Sifat wajib Allah yang ma’ani ada 7 (tujuh), yaitu :

Ø  Qudrat (berkuasa); sifat mustahilnya ‘ajzun (lemah). Dalilnya Q.S. Al Maidah : 120.

Ø  Iradat (berkehendak); sifat mustahilnya karahah (terpaksa). Dalilnya Q.S. Yasin : 82

Ø  Ilmu (mengetahui); sifat mustahilnya jahlun (bodoh). Dalilnya Q.S. Al Mujadalah : 7.

Ø  Hayat (hidup); sifat mustahilnya mautun (mati). Dalilnya Q.S. Al Baqarah : 255.

Ø  Sama’ (mendengar); sifat mustahilnya shummun (tuli). Dalilnya Q.S. An Nisa : 148.

Ø  Bashar (melihat); sifat mustahilnya ‘umyun (buta). Dalilnya Q.S. Al Hujurat : 18.

Ø  Kalam (berbicara, berfirman); sifat mustahilnya bukmun (bisu). Dalilnya Q.S. An Nisa : 164).

4.      Sifat Maknawiyah

Adalah sifat yang merupakan kelaziman atau kelanjutan dari adanya sifat-sifat ma’ani, yaitu qadiran, mudian ‘aliman, hayyan, sami’an, bashiran dan mutakaliman.

 

c.       Contoh penerapan keimanan kepada sifat-sifat Allah :

Sifat wajib Allah dapat kita teladani dalam bersikap yaitu :

1. wujud artinya ada. Sifat ini mengajarkan kita untuk tidak bersembunyi atau jadi pengecut.

2. qidam artinya dahulu atau awal. Sifat ini mengajarkan kita bahwa untuk selalu menjadi orang pertama yang taat kepada Allah dan menjadi orang pertama yang mencintai Allah.

3. baqa artinya kekal. Sifat ini mengajarkan kita bahwa amal kita bersifat kekal dan tidak berubah. Kecuali kita sendiri yang mengubahnya menjadi lebih baik.

4. mukhalafatu lilhawadisti artinya berbeda dengan ciptaan-Nya. Sifat ini mengajarkan kita bahwa setiap amal manusia itu berbeda. Maka dari itu manusia berlomba-lomba untuk beramal baik.

5.qiyamuhubinafshi artinya berdiri sendiri. Sifat ini mengajarkan kita bahwa setiap manusia dapat menjadi mandiri tergantung kemauan.

 

 

II.                MENERAPKAN AKHLAK TERPUJI KEPADA ALLAH SWT.

 

a.      Ikhlas

Ikhlas artinya memurnikan niat semata-mata hanya mencari ridha Allah SWT. Bentuk (contoh) perilaku ikhlas :

·         Selama melaksanakan tugas piket Ahmad tak pernah mengeluh dan tak mengharapkan penghargaan dari guru maupun teman-temannya.

Dampak positif sifat ikhlas :

- memperoleh kepuasan batin karena merasa bahwa kebaikan yang dilakukan sesuai dengan kehendak Allah

- merasa senang karena adanya harapan ridha dari sisiNya

- dapat menjaga kerutinan berbuat baik, tanpa mengharap pujian dari orang lain

 

b.      Taat

Taat artinya tunduk dan patuh kepada Allah SWT dalam bentuk melaksanakan perintah-Nya dan meninggalkan larangan-Nya.

Bentuk (contoh) perilaku taat :

·         Beberapa minggu setelah kematian suaminya, Ibu Muslimah memanggil seorang ustadz untuk membagi harta peninggalan suaminya sesuai hukum mawaris karena taat kepada hukum Allah SWT.

Dampak positif taat :

- memperoleh kepuasan batin karena telah mampu melaksanakan kewajiban kepada Allah dan RasulNya

- memperoleh ridha Allah karena telah mampu menaati perintahNya

- memperoleh kemenangan yang besar (surga) sebagaimana disebut dalam Q.S. An Nisa’ : 13

 

c.       Khauf

Khauf artinya perasaan takut kepada Allah SWT. Karena menyadari Zat-Nya yang Maha Agung dan pedihnya azab (siksa) yang akan diberikan kepada orang yang mendurhakai-Nya.

Bentuk (contoh) perilaku khauf :

·         Sebagai kepala keluarga, Pak Hamdan selalu membimbing anggota keluarganya agar meningkatkan kualitas maupun kuantitas ibadahnya, baik yang berhubungan langsung kepada Allah maupun yang berhubungan dengan sesama manusia, semata-mata karena takut dengan murka Allah SWT.

Dampak positif khauf :

- dapat menjaga kerutinan berbuat baik, karena khawatir kebaikannya yang lalu diterima Allah

- tidak menganggap ringan terhadap semua perbuatan dosa karena semua itu akan dipertanggungjawabkan di sisi Allah

- Tidak bangga dengan  semua kebaikan yang telah dilakukannya sebab belum yakin kebaikannya itu diterima Allah

 

d.      Taubat

Taubat artinya kembali ke jalan yang benar dengan berhenti dan menyesali dosa atau kesalahan yang telah diperbuat.

Bentuk (contoh) perilaku taubat :

·         Setelah menyadari kesalahannya, Jefri yang suka mengompas teman-temannya segera menemui orang-orang yang pernah dikompas untuk meminta maaf. Ia berjanji tidak akan mengulangi lagi perbuatannya tersebut dan ia juga banyak membaca istighfar memohon ampun kepada Allah SWT.

Dampak positif taubat :

- memperoleh semangat dan gairah hidup baru karena Allah berkenan mengampuni dosa-dosanya

- memperoleh simpati dari masyarakat

- mengembalikan nama baik diri, keluarga dan amsyarakat

- keluarga tidak lagi cemas karena tidak lagi melakukan kejahatan atau keburukan

 e.      Istiqomah

Istiqamah adalah konsisten dalam mempertahankan keimanan dan ibadah kepada Allah swt serta kebaikan-kebaikan lainnya dengan ikhlas.

Bentuk (contoh) perilaku istikamah :

·         Pak Reza adalah pedagang yang sukses. Pak Reza selalu melaksanakan ibadah-ibadah wajib dan sebagian hasil usahanya disedekahkan ke tempat-tempat ibadah dan orang-orang yang membutuhkan. Semu aitu dilaksanakan Pak Reza atas dasar mengimani akidah Islam dengan penuh keteguhan hati agar tetap menjadi pedagang yang jujur, taat beribadah dan gemar bersedekah sesuai ajaran agama

Dampak positif istikamah :

- tidak lalai terhadap perintah Allah dan rasul-Nya

- hidup menjadi lebih tenang dan dijauhkan dari rasa takut dan sedih

- akan mendapatkan kesuksesan karena ketekunan dan keuletannya

- menjadi orang yang teguh pendirian dan tidak mudah goyah

III.             ADAB SHOLAT DAN DZIKIR

1.      Adab Sholat :

a.       Menjaga waktu dan batas-batasnya. 

b.      tempat sholat dan sujud, kita rapikan dan bersihkan dari najis- najis yang ada, singkirkan gambar, tulisan atau apa saja yang mengganggu kekhusyu’an shalat.

c.       Memakai  pakaian kita yang terbaik, saat panggilan sholat telah tiba. Yang rapi, santun, baik,  harum semerbak (bagi laki-laki)  dan menutup aurat secara sempurna.

d.      Menyesal serta bersedih, jika tidak dapat menunaikan dan menikmati shalat dengan baik dan sempurna.

e.       khusyu’, Nabi memerintah: “shalatlah seperti shalatnya orang yang berpamitan (dari dunia ini)”. Maksudnya shalatlah seakan-akan ini adalah shalat yang terakhir kita lakukan.

 

2.      Adab Dzikir

a.       Ikhlas dalam berdzikir mengharap ridho Allah, membersihkan amal dari campuran dengan sesuatu. Menghadirkan makna dzikir dalam hati, sesuai dengan tingkatannya dalam musyahadah.

b.      Berdzikir dengan dzikir dan wirid yang telah dicontohkan Rasululloh, karena dzikir adalah ibadah. Membaca al-Qur’an dengan niat berdzikir juga dianjurkan.

c.       Mencoba memahami maknanya dan khusyu’ dalam melakukannya.

d.      Duduk disuatu tempat atau ruangan yang suci seperti duduk dalam shalat juga dianjurkan.

e.       Mewangikan pakaian dan tempat dengan minyak wangi,  pakaian yang bersih dan halal.

f.        Memilih tempat yang agak sunyi. boleh memejamkan dua mata, karena dengan mata terpejam itu, tertutup jalan-jalan panca indra lahir, sehingga mengakibatkan terbukanya panca indra hati.

  

IV.             KETELADANAN NABI SULAIMAN

a.       Rasa malu pada Allah SWT: Nabi Sulaiman melihat  karunia Allah  terlalu besar, tetapi ibadahnya ia merasa masih kurang, beliau malu memandang ke langit karena malu kepada Allah SWT.

b.      Mau berdialog dengan rakyat kecil: Nabi Sulaiman senang berkomunikasi dengan rakyatnya, walaupun rakyatnya (hanya) beberapa ekor semut. Lihat surat AnNaml: 18-26.

c.       Nabi sulaiman senang bekerja sebagai wujud syukur: nabi Sulaiman termasuk sebagian nabi yang paling pandai bersyukur. Nabi Sulaiman berdoa pada Allah supaya diajari pekerjaan yang membuatnya bersyukur, lalu Allah mengajarinya ilmu menyepuh besi dengan emas. Sehingga beliaulah manusia pertama yang menyepuh besi dengan emas.

d.      kekhusyu’an  shalat nabi Sulaiman:  Sampai-sampai beliau meninggal dalam posisi sedang berdiri shalat. Sudahkah shalat kalian khusyu’? Allah berfirman dalam Q.S. AsSaba’: 14

 

V.                MEMAHAMI AL ASMA’ AL HUSNA

 

Al Asma’ Al Husna (  الأسماء الحسنى) artinya nama-nama Allah SWT yang indah. Jumlahnya ada 99 (sembilan puluh sembilan), 10 (sepuluh) diantaranya ialah :

a.      Al Aziz (yang Maha Perkasa)

Apa yang dikehendaki Allah SWT pasti terjadi, tak satupun makhluk yang dapat menghalangi kehendak-Nya. Hal ini dibuktikan bahwa tak ada satupun makhluk yang dapat mempertahankan hidup selamanya. Apabila Allah menghendaki mati, maka matilah makhluk.

b.      Al Ghaffar (Yang Maha Pengampun)

Allah SWT senantiasa membuka kesempatan bertobat kepada hamba-Nya yang terlanjur berbuat dosa. Dia akan memberikan ampunan bagi hamba-Nya yang benar-benar bertobat kepada-Nya.

c.       Al Basith (Yang Maha Melapangkan Rezeki)

Nafsu setiap manusia ingin memiliki kekayaan yang banyak sebagai sarana kesejahteraan hidupnya di dunia. Kenyataannya tidak semua manusia dapat mencapai keinginannya meskipun telah berupaya maksimal. Ini merupakan bukti bahwa Allah lah yang berkuasa melapangkan rezeki kepada siapa yang Dia kehendaki dan Dia juga yang menyempitkannya bagi siapa yang Dia kehendaki pula.

d.      An Nafi (Yang Maha Pemberi Manfaat)

Dalam kenyataan hidup ini banyak manusia yang terkejut karena salah perhitungan dan perkiraan. Perkara yang semula dikira akan membawa manfaat justru mendatangkan madharat (kerugian). Tak jarang pula manusia yang tidak menyukai sesuatu karena dikira akan membawa madharat justru membawa manfaat. Hal ini sebagai bukti bahwa Allah yang berkuasa memberi manfaat atau madharat kepada sesuatu.

Semua yang diciptakan Allah tidak ada yang sia-sia, pasti ada manfaatnya. Seperti Allah menciptakan bianatang ternak yang dapat diambil manfaat dari daging, susu, kulit bahkan kotorannya.

e.       Ar Rauf (Yang Maha Belas Kasih)

Manusia dan makhluk hidup lainnya mutlak memerlukan makanan dan minuman untuk dapat melangsungkan hidupnya. Mereka juga membutuhkan oksigen. Dalam sehari semalam seseorang membutuhkan sekitar 16 kubik oksigen. Semuanya itu telah disediakan Allah secara gratis. Ini salah satu bukti bahwa Allah adalah Zat Yang Maha Belas Kasih.

f.        Al Barr (Yang Maha Dermawan / Melimpah Kebaikan-Nya)

Kedermawanan Allah SWT kepada hamba-Nya sangat jelas dan dapat kita rasakan. Nikmatnya kesehatan jasmani, tersedianya segala kebutuhan hidup di alam ini menjadi buktinya. Semuanya diberikan oleh-Nya kepada manusia meskipun mereka kafir atau mengingkari-Nya.

g.      Al Hakim (Yang Maha Bijaksana)

Petunjuk agama yang dianugerahkan Allah kepada manusia merupakan salah satu bukti kebijaksanaan-Nya. Dia mengharamkan berbagai jenis perbuatan buruk karena dapat berakibat negatif jika dilakukan. Dan Dia mewajibkan manusia untuk mengerjakan perbuatan-perbuatan yang berdampak positif.

h.      Al Fattah (Yang Maha Memberi Keputusan/Membuka Pintu Rahmat)

Manusia hanya dapat berusaha sedangkan keberhasilan usahanya, Allah lah yang berkuasa memutuskannya.

Ada beberapa persoalan hidup yang terasa sulit teratasi oleh kita. Jika Allah tidak membukakan pintu rahmat-Nya maka tidak ada satupun kekuatan yang dapat mengatasi dan memecahkan kesulitan-kesulitan tersebut.

i.        Al ‘Adl (Yang Maha Adil)

Allah Maha Adil dan mustahil berbuat aniaya (zalim) terhadap hamba-Nya. Allah akan memberi balasan yang setimpal dengan perbuatan yang dilakukan. Orang-orang yang soleh akan mendapat balasan surga yang penuh kenikmatan dan orang-orang yang durhaka akan disiksa ke dalam api neraka.

j.        Al Qayyum (Yang Terus Menerus Mengurus / Yang Maha Berdiri Sendiri)

Sejak pertama diciptakan sampai sekarang, bumi tetap berputar pada porosnya dan tetap mengelilingi matahari. Sehingga terjadilah peristiwa siang dan malam. Keadaan seperti itu akan terus berlangsung sampai datangnya yaumus sa’ah (hari kiamat). Allah yang mengatur seluruh alam semesta ini dan Dia tidak memerlukan bantuan siapapun dalam melakukannya.

 

VI.             MENINGKATKAN KEIMANAN KEPADA MALAIKAT-MALAIKAT ALLAH DAN MAKHLUK GHAIB LAINNYA SELAIN MALAIKAT

 

Makhluk ghaib adalah ciptaan Allah SWT yang tidak dapat ditangkap oleh panca indra manusia, keberadaannya tidak dapat diketahui manusia secara fisik/lahir. Makhluk ghaib yang wajib kita percayai keberadaannya berdasarkan dalil-dalil Al Qur’an maupun hadits antara lain :

1.      Malaikat

Malaikat adalah makhluk ghaib yang diciptakan Allah dari nur (cahaya) dan mempunyai ketaatan yang sempurna kepada Allah, mereka tidak pernah durhaka dan maksiat kepada-Nya. Malaikat tidak berjenis kelamin dan tidak mempunyai nafsu.

Beriman kepada malaikat artinya kita mempercayai keberadaan para malaikat sebagai makhluk Allah serta meyakini tugas-tugas yang diamanahkan Allah kepada mereka.

 

 segala puji bagi Allah, Pencipta langit dan bumi yang menjadikan malaikat sebagai utusan-utusan (yang mengurus berbagai macam urusan), yang mempunyai sayap, masing-masing dua, tiga dan empat. Allah menambahkan kepada ciptaan-Nya apa yang Dia kehendaki…” (Q.S. Fathir : 1)

 

Jumlah malaikat yang wajib diketahui beserta tugasnya masing-masing ada 10 (sepuluh) yaitu :

a.       Jibril; bertugas menyampaikan wahyu kepada para nabi dan rasul

b.      Mikail; bertugas membagikan rezeki

c.       Isrofil; bertugas meniup sangkakala di hari kiamat

d.      Izroil; bertugas mencabut nyawa

e.       Raqib; bertugas mencatat amal baik

f.        Atid; bertugas mancatat amal buruk

g.      Munkar; bertugas menanyai manusia di alam kubur

h.      Nakir; bertugas menanyai manusia di alam kubur

i.        Malik; bertugas menjaga neraka

j.        Ridwan; bertugas menjaga surga

2.      Jin

Jin adalah makhluk ghaib yang diciptakan Allah dari api. Jin dikenakan taklif (kewajiban) seperti manusia.

Dan tidaklah kami ciptakan jin dan manusia kecuali untuk menyembahKu…” (Q.S. Adz Dzariyat : 56)

Jin berjenis kelamin, makan dan minum, ada yang baik dan ada yang jahat. Ada yang taat dan ada yang durhaka. Ada yang beriman dan ada yang kafir. Ada yang fasik dan ada pula yang zalim. Tetapi kebanyakan jin adalah golongan jin kafir.

3.      Iblis/Setan

Iblis berasal dari golongan jin yang durhaka. Iblis/setan memiliki sifat sombong, menentang, durhaka dan senantiasa berusaha menyesatkan manusia dari jalan Allah, dll. Mereka menjadi makhluk Allah yang terkutuk dan akan masuk neraka selamanya. (Q.S. Shad : 76)

Dalam Surat An Naas dikatakan bahwa setan dapat berasal dari golongan jin maupun manusia. Dari sini dapat dipahami bahwa setan adalah julukan, sebutan atau gelar bagi makhluk yang durhaka dan selalu menyesatkan manusia dari jalan Allah.

 

Perilaku meneladani sifat-sifat malaikat :

a.      Selalu taat kepada perintah Allah

b.      Tidak menyombongkan diri

c.       Selalu bertasbih kepada Allah

d.      Tidak pernah maksiat atau mendurhakai Allah

 

Hikmah beriman kepada malaikat dan makhluk ghaib lainnya :

  • Takut melakukan perbuatan maksiat, karena dengan meyakini segala perbuatan itu, tak akan terlepas dari pengawasan malaikat.
  • Berlomba-lomba dalam hal kebajikan, serta bertakwa dan beriman kepada Allah SWT.
  • Senantiasa untuk berpikir dan berhati-hati setiap melakukan suatu perbuatan, karena perbuatan baik atau buruk, akan selalu dipertanggungjawabkan di akhirat kelak dan tak pernah luput.
  • Yakin akan pertolongan Allah SWT.
  • Membentuk sikap jujur, amanah dan mendorong diri kita untuk tetap senantiasa berbuat baik.
  • Iman kita yang jauh lebih kuat dan jauh lebih yakin terhadap Allah SWT.
  • Tak akan sempurna keimanan kita jika tak mengimani malaikat Allah SWT.
  • Menumbuhkan rasa untuk mengagungkan Allah SWT, karena dengan kekuasaan-Nya telah menciptakan malaikat yang begitu istimewa.
  • Menghindarkan manusia untuk terhindar dari perbuatan buruk dan tercela.
  • Menambah kesadaran akan alam wujud yang tak terjangkau oleh panca indera manusia.
  • Terhinda dari perilaku sombong.
  • Memperkuat keimanan kepada Allah SWT.
  • Suka mendoakan kebaikan dan memberi ampunan untuk orang lain
  • Menghindari keinginan untuk berbuat dosa.
  • Semakin yakin akan kebesaran dari Allah SWT.
  • Bersyukur kepada Allah SWT, karena sudah menciptakan malaikat untuk membantu segala kehidupan dan kepentingan manusia itu sendiri.
  • Menumbuhkembangkan sikap cinta terhadap amal soleh.
  • Menambah semangat dan rasa ikhlas dalam melakukan ibadah, walau tak dilihat orang lain saat melakukannya.
  • Semakin giat untuk berusaha, karena memang semua yang diturunkan oleh Allah SWT, harus dengan usaha dan kerja keras. 
  • Senantiasa waspada karena tidak semua jin itu saleh ada diantara jin yang durhaka dengan mengajak manusia untuk berbuat jahat, mengajak kepada kesyirikan dan sebagainya.
  • Meningkatkan keimanan kepada allah untuk semakin mendekatkan diri kepadanya dan berlindung dari godaan setan

 

VII.          MENGHINDARI AKHLAK TERCELA KEPADA ALLAH SWT.

 

a.      Riya

Riya secara bahasa artinya memperlihatkan atau pamer. Secara istilah riya adalah memperlihatkan sesuatu kepada orang lain baik barang ataupun perbuatan baik dengan maksud agar orang lain memujinya.

Contoh perilaku riya:

·         Enggan beribadah saat sendirian namun merasa senang bila ada yang melihatnya. (Riya jali = jelas)

·         Beribadah tanpa sedikitpun disertai riya. Namun begitu ada orang yang mengetahui ibadahnya atau amal sholehnya ia sangat bahagia dan makin menambah ibadahnya karena senang ada yang melihatnya. (Riya khafi = samar)

Riya disebut juga syirik kecil karena dalam beribadah tidak menyandarkan keikhlasan kepada Allah semata melainkan kepada manusia juga. Riya dapat menghapus pahala amal kebaikan seperti hujan lebat yang menyapu bersih debu di atas batu licin. (Q.S. Al Baqarah : 264)

 

Rasulullah Saw. bersabda:

 

ان اخواف ما اخاف على امتي الشرك الاصغر قالوا يا رسول الله وما الشرك الاصغر قال النبي صلى الله عليه وسلم الرياء

 

Sesungguhnya sesuatu yang paling aku khawatirkan atas umatku adalah berbuat syirik kecil. Sahabat bertanya: wahai Rasulullah, apa yang dimaksud dengan syirik kecil? Rasulullah Saw. bersabda: berbuat sesuatu bukan karena Allah (riya’).

b.      Nifak

Nifak secara bahasa artinya habis atau bisa juga berarti lubang tikus di padang pasir yang susah ditebak tembusannya. Secara istilah nifak artinya perbuatan yang menyembunyikan kekafiran di hatinya dan menampakkan keimanan dalam ucapan dan tindakan. Atau ketidaksesuaian antara keyakinan, perkataan dan perbuatan. Orang yang memiliki sikap nifak disebut munafik.

Contoh perilaku nifak :

·         Melakukan perbuatan yang menyatakan dirinya beriman, seperti shalat atau sedekah, padahal di hatinya tidak ada keimanan sama sekali. (Nifak I’tiqadi)

·         Suka berbohong atau mengingkari janji dan berkhianat. (Nifak Amaly)

Ciri-ciri orang munafik menurut hadits Rasul :

1. bila berkata, dusta

2. bila berjanji, mengingkari

3. bila dipercaya, berkhianat

4. bila bertengkar suaranya melewati batas.

 

Dari Abu Hurairah r.a, Nabi saw bersabda:

 

" آيَةُ المُنَافِقِ ثَلاَثٌ: إِذَا حَدَّثَ كَذَبَ، وَإِذَا وَعَدَ أَخْلَفَ، وَإِذَا اؤْتُمِنَ خَانَ " [صحيح البخاري ومسلم]

 

“Tanda orang munafiq ada tiga: Jika berbicara ia berdusta, jika berjanji ia mengingkari, dan jika diberi amanah ia berkhianat”. [Sahih Bukhari dan Muslim]

 

Dari Abdullah bin ‘Amr r.a; Rasulullah saw bersabda:

 

" أَرْبَعٌ مَنْ كُنَّ فِيهِ كَانَ مُنَافِقًا خَالِصًا، وَمَنْ كَانَتْ فِيهِ خَصْلَةٌ مِنْهُنَّ كَانَتْ فِيهِ خَصْلَةٌ مِنَ النِّفَاقِ حَتَّى يَدَعَهَا: إِذَا اؤْتُمِنَ خَانَ، وَإِذَا حَدَّثَ كَذَبَ، وَإِذَا عَاهَدَ غَدَرَ، وَإِذَا خَاصَمَ فَجَرَ " [صحيح البخاري ومسلم]

 

“Ada empat sifat, barangsiapa yang ada pada dirinya sifat tersebut maka ia adalah munafiq yang murni, dan barangsiapa yang ada padanya salah satu sifat tersebut maka padanya telah ada sifat munafiq sampai ia meninggalkannya: Jia diberi amanah ia berkhianat, jika berbicara ia berdusta, jika berjanji ia mengingkari, dan jika bertengkar ia melampaui batas” [Sahih Bukhari dan Muslim]

  

VIII.       ADAB MEMBACA AL QUR’AN DAN BERDOA

 

Adab Membaca Al-Qur’an:

1. Membaca Al-Qur’an di tempat yang suci

2. Menghadap kiblat

3. Dalam keadaan suci dari hadas besar dan kecil

4. Memohon perlindungan dari godaan setan

5. Membaca basmalah

6. Membaca menurut tertib mushaf

7. Sujud tilawah, bila bertemu ayat sajdah

8. Merendahkan dan memerdukan bacaan dengan tartil

9. Berhenti untuk berdoa ketika membaca ayat Rahmat dan ayat azab

10. Memperbanyak menghatamkan membaca Al-Qur’an

11. Menghindari bercanda dan mendengarkan dengan seksama ketika Al-Qur’an dibaca

12. Menutup bacaan dengan me-Maha benarkan Allah SWT dengan segala yang termaktub dalam Al-Qur’an

13. Mengakhiri dengan doa.

 

Adab Berdoa:

1.     Niat yang tulus dan ikhlas karena Allah SWT

2.     Menghadap kiblat

3.     Dalam keadaan suci dari hadas dan najis

4.     Diawali dengan membaca ta’awwud, bismillah, pujian kepada Allah SWT dan shalawat kepada Nabi Muhammad SAW

5.     Berhati ikhlas hanya berharap ridho Allah SWT

6.     Penuh harap dengan diliputi kecemasan dan yakin do’a akan dikabulkan Allah SWT

7.     Memperbanyak taubat dan memohon ampun kepada Allah SWT

8.     Mengangkat kedua tangan

9.     Melembutkan suara (tidak berlebihan) dan tenang saat berdo’a

10. Tidak tergesa-gesa

11. Khusyu’ dan rendah diri

12. Memohon dengan asmaul husna

13. Mengaku dosa

14. Diakhiri dengan membaca sholawat dan hamdalah

 

IX.             KETELADANAN ASHABUL KAHFI

Ashabul Kahfi adalah kisah 7 pemuda yang tertidur lelap di dalam gua selama 309 tahun. Kisah ini terjadi sebelum zaman nabi Muhammad salallahu'alaihi wassalam. Para pemuda bersembunyi di dalam gua untuk melarikan diri dari kekejaman Raja Dikyanus. Kisah ini bersumber dari Al Qur'an dalam Surah Al Kahfi.

Menurut beberapa sejarawan Islam, ketujuh pemuda tersebut bernama: Maxalmena, Martinus, Kastunus, Bairunus, Danimus, Yathbunus dan Thamlika, serta seekor anjing bernama Kithmir yang dipercaya sebagai satu-satunya anjing yang masuk Surga. Banyak yang berpendapat kisah ini terjadi di Suriah, tetapi ada beberapa ahli Al Qur'an dan Injil berpendapat mereka berasal dari .

Secara garis besar, kisah Ashab al-Kahf mengajarkan kepada kaum Muslimin tentang pentingnya memanfaatkan masa muda untuk berjuang di jalan Allah. Seorang pemuda Muslim mesti menyadari peran sebagai tunas harapan umat yang akan meneruskan dakwah tauhid di masa depan.

Dari kisah para pemuda ini dapat diambil beberapa teladan diantaranya:

1.      Sesungguhnya siapa saja yang berlindung kepada Allah niscaya Allah akan melindunginya dan bersikap lembut terhadapnya, serta menjadikan orang-orang yang sesat mendapat hidayah (petunjuk).

2.      Anjuran untuk mencari ilmu. Dalam kisah tersebut ketika mereka saling bertanya tentang keadaan mereka.

3.      Adab kesopanan bagi mereka yang mengalami kesamaran atau ketidakjelasan akan suatu masalah dan hendak mengembalikan kepada yang lebih mengetahuinya.

4.      Sahnya menunjuk wakil dalam jual beli, seperti dalam kisah saat mereka berkata untuk pergi ke kota dengan membawa uang perak mereka.

5.      Dari kisah ini, dianjurkan kepada manusia agar berhati-hati atau mengasingkan diri untuk menjauhi tempat-tempat yang menimbulkan fitnah. Dan menyimpan rahasia yang dapat menjauhkan mereka dari kejahatan.

Dalam kisah ini juga bercerita tentang betapa cintanya para pemuda tersebut dengan agama mereka hingga mereka lebih memilih melarikan diri, bersembunyi di gua dan meminta pertolongan kepada Allah.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Contoh Proposal Fatayat

SOAL ULANGAN AKIDAH AKHLAK KELAS 7 MTS (TAUBAT, TAAT, ISTIQOMAH DAN IKHLAS)

RESUME MATERI AKIDAH AKHLAK MTs KELAS IX