MENJADI BERMANFAAT : CERITA KADER FATAYAT NU (BAG. 2)
#kaderpenggerak
#AUTOBIOGRAFI
Lepas MTs aku melanjutkan pendidikan
ke Madrasah Aliyah Program Khusus (MAPK) Ciamis Jawa Barat sambil tinggal di
Pondok Pesantren. Tetapi cuma beberapa bulan aku di sana. Penyebabnya, saat itu
aku berkirim kabar ke Abah lewat surat. Aku ceritakan kegiatan sehari-hariku di
Pondok. Aku juga ceritakan kalau sholat Shubuh di Pondok tidak ada doa qunutnya
dan saat berjamaah dengan sesama santri putri, imamnya sejajar dengan makmum,
berdeda dengan yang selama ini kami lakukan. Setelah membaca isi suratku itu, rupanya
Abah langsung mengutus kakak pertamaku yang laki-laki untuk menjemputku pulang.
Kata kakakku, Abah mau memindahkanku ke Pondok Pesantren di Jombang Jawa Timur
yang jelas-jelas pondok NU. Abah dan kedua kakakku semuanya alumni Pondok
Pesantren Tebuireng Jombang. Sedangkan ibu dulu mondok di Seblak
Jombang.
Awalnya saya menolak dipindah. Saya
sudah merasa betah dengan suasana pondok dan teman-teman di Ciamis. Tetapi
akhirnya takdir membawa saya ke Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakeras Jombang
Jawa Timur.
Saya langsung didaftarkan di
Madrasah Aliyah Bahrul Ulum dan mondok di Ribath As Sa’idiyyah Bahrul
Ulum di bawah asuhan KH. Ahmad Nasrulloh bin Abdurrochim bin Chasbulloh bin
Sa’id (kemenakan KH. Abdul Wahab Chasbulloh, salah satu pendiri NU) dan Ibu
Nyai Zubaedah. Beberapa bulan pertama di pondok ini saya menderita penyakit
gatal semacam exim di bagian muka. Penyakit khas santri kata orang. Meskipun
hal itu membuat saya minder luar biasa tetapi tidak lantas membuatku putus
sekolah atau boyong dari pondok. Pada masa Aliyah di pesantren inilah
saya merasakan senangnya pertama kali masuk TV. Saat itu TVRI Jawa Timur
membuat program liputan Pesantren, dan saya berkesempatan unjuk kebolehan
menampilkan pidato berbahasa Inggris.
Di Pondok Pesantren Bahrul Ulum pula
aku melanjutkan pendidikan tinggi yaitu di STAI Bahrul Ulum (saat ini namanya
Universitas Wahab Hasbullah Jombang) Fakultas Tarbiyah Jurusan Pendidikan
Bahasa Arab. Saat masa-masa kuliah saya banyak berkenalan dengan teman-teman
organisasi kampus maupun non kampus seperti LSM. Saya bergabung dengan
organisasi Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) bahkan sempat menjadi
Ketua Komisariat PMII Wahab Chasbullah selama satu periode. Juga terlibat
sebagai anggota LSM HAM di Jombang yaitu ICHDRE (Islamic Centre for
Democration and Human Rights Empowerment). Dipercaya menjadi Pimred
(pimpinan redaksi) bulletin pondok “SUSANA” (Suara Santri As Sa’idiyyah Bahrul
Ulum) semakin menambah pengalamanku dan membuatku semakin senang berorganisasi.
Organisasi sedikit banyak turut membentuk saya menjadi seperti sekarang ini.
Sejak dari MTs aku sudah mengenal
organisasi. Saat itu aku menjadi anggota Ranting IPNU-IPPNU Mejasem Timur dan
pernah menjadi Ketua OSIS MTs. Assalafiyyah Kota Tegal. Di bangku Aliyah, saya
juga pernah menjabat sebagai bendahara OSIS. Bagiku, berorganisasi atau minimal
bersosialisasi, meski di lingkup kecil, RT misalnya, seperti sekolah kedua.
Sekolah kehidupan yang menyenangkan. Bertemu dengan banyak orang yang
bermacam-macam karakternya membuat kita belajar banyak hal. Bagaimana memenej
rasa, memecahkan persoalan dan itu lambat laun akan membentuk kepribadian kita.
Rasanya monoton dan membosankan bila sehari-hari kita hanya sibuk urusan sumur,
dapur, kasur atau lembur cari harta duniawi. Hidup menjadi kurang bermakna.
Seperti dikatakan dalam sebuah hadits, “Sebaik-baik manusia adalah orang yang paling
banyak manfaatnya bagi orang lain”. Itulah salah satu alasanku senang
bersosialisasi dan berorganisasi.
Dengan berorganisasi, selain mendapat tambahan relasi pertemanan dan persaudaraan, kita juga akan mendapat tambahan wawasan dan pengetahuan, yang dengan itu kita bisa belajar untuk berbuat sesuatu yang memberi manfaat sebanyak-banyaknya pada teman-teman kita, lingkungan dan masyarakat. (Bersambung lagi...😍)
Komentar
Posting Komentar